PESERTA SMN BEDAH BUKU CERITA NUSANTARA KAMI

Foto : Penanggungjawab jawab kegiatan SMN 2018 di Sulteng PT Wijaya Karya (Wika), Heni Pusbintari didampingi Kepala Biro Antara Sulteng Rolex Malaha, menyerahkan secara simbolis buku SMN 2017 Cerita Nusantara Kami, kepada Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Sulteng M. Idham Khalid. [Utustoria/Istimewa]

PALU, Utustoria.com

Sebanyak 23 peserta Siswa Mengenal Nusantara (SMN) tahun 2018 asal Provinsi Bangka Belitung di Sulawesi Tengah menggelar bedah buku “Cerita Nusantara Kami”, di Markas Komando Angkatan Laut Palu, Senin.

Kegiatan itu menghadirkan dua narasumber yakni Neni Muhidin sebagai pengiat literasi di Sulteng dan Ahmad Fauzi dari media literasi anak negeri. Kegiatan itu merupakan rangkaian SMN 2018 yang difasilitasi oleh PT Wijaya Karya dan LKBN Antara, dua dari ratusan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

“Kekuatan dalam menulis adalah memberikan kesan kepada pembaca,” kata Neni.

Menurut Neni, 23 peserta SMN merupakan siswa yang beruntung, sehingga wajib untuk menuliskan sesuatu yang paling unik sekalipun, dimana kunjungan yang dilakukan.

“Belajarlah seperti wartawan, minimal mengetahui ilmu jurnalistik dasar,” harap ketua pengurus wilayah forum taman bacaan masyarakat di Sulteng itu.

Neni mencontohkan dirinya dapat mengetahui keindahan Provinsi Bangka Belitung juga dari tulisan. Walaupun dia sendiri belum mengunjungi daerah tersebut.

“Itulah kekuatan tulisan, dan banyak ruang yang dapat digunakan untuk menulis,” katanya.

Pendiri perpustakaan mini “Nemu Buku” itu mencontohkan, menulis tidak hanya dilakukan di buku, kerena ruang yang ada sangat terbatas. Tetapi dengan kecangihan alat komunikasi, misalnya gawai yang dimiliki, semua orang dapat menulis, baik melalui blog, website atau pun melalui akun media sosial.

“Saya berharap tahun depan, saya dapat membaca tulisan-tulisan dari para peserta SMN 2018, lebih baik dari tahun ini,” harap Neni.

Neni juga menyarankan untuk Kementerian BUMN, agar para peserta SMN tahun ini, dapat dibuatkan satu buku khusus kunjungan ke provinsi. Tidak hanya buku SMN, dimana ruang menulis yang diberikan sekira 200 kata saja.

“Usai kegiatan ini, ada 34 buku dari masing-masing kunjungan di seluruh provinsi di Indonesia,” ujar Neni.

Sementara itu Narasumber lainnya Ahmad Fauzi mengatakan tulisan-tulisan yang unik dapat membangkitkan daya tarik untuk siapa saja membacanya.

“Kalau seandainy itu jualan, maka orang tertarik untuk membelinya,” kata Ahmad.

Menurut dia, peserta SMN tidak hanya mampu untuk untuk menulis, tetapi tulisan tersebut harus dapat dibaca oleh khalayak ramai. Sehingga dengan tulisan itu, selain memberikan informasi, juga dapat memberikan pengaruh kepada masyarakat.

“Jika itu hal unik, maka orang yang membaca dapat tertarik untuk mengunjunginya,” ujar Ahmad.

Ahmad berpesan kepada peserta untuk tidak berhenti menulis. Karena, yang hadir di Sulteng merupakan sebagian kecil mahasiswa pilihan dari sekian banyak siswa di Indonesia yang dibiayai oleh Negara.

Bertukar Pengalaman

Diskusi dan bedah buku yang berlangsung sekira satu jam yang dimoderatori pewarta LKBN Antara Fauzi Lamboka, tidak hanya mendengarkan pemaparan dua narasumber, tetapi ikut pula menghadirkan dua peserta SMN tahun 2017 asal Sulawesi Tengah yang berkunjung ke Provinsi Riau.

Wahda, siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Marawola bercerita kunjungan setahun lalu memberikan kesan mendalam bagi dirinya dan 20 peserta lain dari Sulteng.

“Saya sangat senang, hari pertama tiba di Pekanbaru, saya dan kawan-kawan disambut dengan ramah oleh peserta SMN asal Riau. Kami dijamu dengan berpantun, bersyair, berpantomin, dan menari tarian khas melayu,” kata Wahda.

Kata Wahdah, begitu banyak kesan dan pengalaman berharga yang didapatkan saat mengikuti kegiatan SMN 2017 salah satunya bertukar cerita tentang kebudayaan.

“Semoga kegiatan ini, dapat membuat kita menjadi sadar bahwa perbedaan menjadi hal yang indah,” harap Wahdah.

Peserta lainnya, Mohammad Rinaldi, asal SMA 8 Sigi menceritakan begitu banyak tempat-tempat istimewa di Riau yang mereka kunjungi selama kegiatan.

“Ada masjid Islamic center, jembatan siak sebagai jembatan terpanjang di Riau, Sungai Jantau atau Sungai Siak dan perpustakaan Soeman,” tutur Rinaldi.

Peserta SMN 2018 juga tidak kalah antusias, Siti Mandatika menyampaikan selain menuliskan hal-hal unik dalam setiap kunjungan, apakah dapat menuliskan kritikan atas daerah yang dikunjungi tersebut. Karena ada beberapa tempat dalam kunjungan mereka, ada yang dirasakan masih kurang.

Sementara peserta lainnya Septi berharap adanya informasi atau kiat-kiat untuk menulis lebih baik, sehingga dapat menarik pembaca.

“Saya saat ini sudah menulis di blog, namun baru beberapa tulisan,” kata Septi.

Kepala LKBN Antara Biro Sulawesi Tengah Rolex Malaha memberikan apresiasi atas antusias para peserta diskusi dan bedah buku SMN 2017. Menurut dia, menulis tidak hanya menyampaikan informasi yang positif saja, tetapi menulis dapat juga memberikan kritikan yang sifatnya membangun, sehingga diharapkan adanya perubahan dari tulisan tersebut.

“Saya berharap, para peserta SMN 2018, dapat menulis apa pun kegiatan yang dilakukan di Sulteng, dan itu dapat kami publikasikan di portal berita Antaranews,” harap Rolex.

Kegiatan itu membedah buku setebal 424 halaman yang merupakan catatan peserta SMN tahun 2017, diterbitkan oleh Kementerian BUMN dan Antara foto.

“Majulah generasi muda Indonesia, raih impian dan kepakan sayap-sayap baktimu dalam menyongsong indonesia gemilang,” pesan Menteri BUMN Rini M Soemarno dalam buku tersebut.

Program SMN bertujuan agar para siswa dapat menanamkan rasa bangga sebagai bangsa yang memiliki keragaman kekayaan nusantara, dan memupuk rasa persatuan bangsa.

Program SMN digelar pertama kali tahun 2015 dengan 558 siswa, tahun 2016 dengan 679 peserta dan 60 diantaranya adalah siswa disabilitas. Kemudian tahun 2017 dengan 752 siswa dan 65 diantaranya peserta disabilitas.

Dalam kesempatan itu, Penanggungjawab jawab kegiatan SMN 2018 di Sulteng PT Wijaya Karya (Wika), Heni Pusbintari didampingi Kepala Biro Antara Sulteng Rolex Malaha, menyerahkan secara simbolis buku SMN 2017 Cerita Nusantara Kami, kepada Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Sulteng M. Idham Khalid.