Peluang Spanyol Raih Poin Dari Iran

Timnas Spanyol. (Foto: Liputan6.com

Utustoria.com

Meski Spanyol memperoleh hasil yang imbang 3-3 melawan Portugal di laga perdana mereka di Piala Dunia 2018, bukan berarti permainan mereka tidak maksimal.

Pada Sabtu (16/6/2018) dini hari 02.00 Wita, di Fisht Stadium, Sochi, Spanyol sempat unggul 3-2 atas Portugal. Hanya, tendangan bebas Cristiano Ronaldo menutup pertandingan dengan hasil yang imbang.

Hari ini, Kamis (20/6) dini hari pukul 02.00 Wita, Spanyol bakal berusaha maskimal untuk memperoleh poin pertama menghadapi Iran di Kazan Arena, Kazan.

Dilansir dari Kumparan.com , jika melihat pertandingan melawan Portugal, Spanyol memang tidak jelek. Mereka memang memiliki kelemahan, yakni tak punya gelandang yang bisa merebut bola dengan agresif, tetapi dua gol yang masuk ke gawang mereka berasal dari kesalahan: Satu dari titik putih, satu akibat blunder David de Gea. Sementara itu, satu lainnya datang dari tendangan bebas.

Kendati baru mengalami pergantian pelatih, dari Julen Lopetegui ke Fernando Hierro, dua hari jelang laga, mereka tetap tidak terpengaruh. Sebelum pertandingan, Hierro menegaskan bahwa terlalu riskan mengubah gaya dan sistem permainan Spanyol hanya dua hari sebelum pertandingan. Oleh karena itu, gaya yang ditampilkan Spanyol masihlah seperti yang dirancang Lopetegui.

Keuntungannya, para pemain Spanyol bakal familiar dengan gaya tersebut. Kekurangannya, Hierro harus memikirkan sendiri plan B yang akan digunakannya apabila sistem tersebut tidak jalan.

Dari laga pertama, terlihat bahwa Hierro memiliki plan B tersebut. Seperti yang dituturkan oleh Michael Cox dalam tulisannya di The Independent, Spanyol kini mengingatkannya pada era Luis Aragones, bukan Vicente del Bosque.

Bersama Aragones, Spanyol sukses menjuarai Piala Eropa 2008 tanpa mengandalkan tiki-taka, tetapi dinamisme permainan. Baru di era Del Bosque, bersamaan dengan moncernya penampilan Barcelona di Eropa lewat juego de posicion Pep Guardiola, Spanyol mengandalkan operan-operan pendek yang kita kenal dengan tiki-taka.

Pada pertandingan melawan Portugal, Spanyol memang masih mengandalkan serangan cepat via operan-operan pendek, terutama setelah mereka tertinggal. Bola-bola diarahkan dengan tepat ke area-area berbahaya —terutama, seperti yang ditunjuk oleh Cox, area sebelah kiri tempat Jordi Alba berada.

Dalam analisis yang ditulis kumparanBOLA beberapa waktu lalu, operan-operan pendek itu memang masih digunakan, tetapi Spanyol berani berimprovisasi ketika dibutuhkan. Umpan panjang dan tendangan dari luar kotak penalti ikut dijajal. Dinamis.

Di tengah sistem tersebut, gelandang Spanyol, Isco, tampil sebagai bintang. Pada laga melawan Portugal, Isco betul-betul mendikte permainan dengan lesakan 89 operan sukses dari 94 percobaan. Selain itu, ia juga memembuat 2 shots —dan dua-duanya mengarah tepat sasaran.

Dari statistik yang diunggah WhoScored, Isco lebih sering beroperasi di sisi kiri lapangan dan lebih sering melepaskan operan dari area tengah dan pinggir lapangan. Hanya sembilan umpan yang dilepaskannya dari sekitar kotak penalti lawan.

Area gerak Isco yang lebih condong ke sisi kiri juga menunjukkan betapa bertumpunya Spanyol pada sisi tersebut. Sebanyak 31% area permainan Spanyol berasal dari sisi kiri, bandingkan dengan sisi kanan yang hanya menyentuh angka 22%.

Selain Jordi Alba dan Isco, Spanyol juga punya Andres Iniesta yang juga beroperasi di area yang sama. Jika Alba terbiasa melakukan overlapping, Isco —yang dipasang sebagai penyerang sayap sebelah kiri— biasanya akan menusuk dari pinggir ke bagian tengah.

Dengan begitu, praktis sisi kanan diserahkan kepada David Silva yang lebih sering menusuk masuk ke dalam kotak penalti dan Nacho Fernandez yang sering melakukan overlapping dan melepaskan umpan silang.

Sementara itu, Koke bakal menjaga kedalaman bersama Sergio Busquets dan berfungsi sebagai gelandang pekerja. Menurut catatan Marca, Koke menjadi pemain dengan daya jelajah paling luas (11.757 m) di antara pemain-pemain Spanyol lainnya. Kelemahannya? Baik Koke maupun Busquets hanya menciptakan masing-masing satu tekel sukses.

Pada laga melawan Maroko, Iran kalah dominan. Selain tertinggal dalam urusan penguasaan bola (37:63), mereka juga kalah dalam hal percobaan untuk mencetak gol (8:13). Namun, dari 13 percobaan itu, hanya 3 yang tepat sasaran.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan Maroko hanya mendapatkan 3 attempts on target. Pertama, bek-bek Iran tampil disiplin; kedua, penyelesaian akhir mereka terbilang buruk.

Beruntungnya lagi buat Iran, mereka menang setelah Aziz Bouhaddouz mencetak gol bunuh diri di injury time babak kedua. Mereka pun sukses menjadi tim Asia pertama yang meraih kemenangan di Piala Dunia 2018 ini.

Sama seperti laga melawan Maroko, Iran kemungkinan besar akan menggunakan formasi 4-1-4-1. Formasi tersebut dimaksudkan untuk meredam agresivitas Maroko yang mengandalkan gelandang-gelandang lincah macam Hakim Ziyech dan Younes Belhanda yang senang betul melakukan dribel.

Dengan sistem tersebut, Iran kemungkinan besar bakal menahan agresivitas Spanyol dan menunggu kesempatan untuk menyerang balik —sama seperti yang mereka lakukan ketika menghadapi Maroko.

Namun, Iran perlu menggarisbawahi catatan berikut: Spanyol bukanlah tim yang mudah kehilangan bola.

Pada laga melawan Portugal, ‘Tim Matador’ hanya kehilangan bola 10 kali. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit ketimbang Portugal (kehilangan bola 20 kali) ataupun Maroko (kehilangan bola 23 kali). Jika demikian, sulit bagi Iran untuk mengembangkan strategi serangan balik mereka.

Di sisi lain, bek kanan mereka, Ramin Rezaeian, patut waspada. Mengingat Spanyol lebih sering menyerang dari sisi kiri, kemungkinan besar dia bakal bekerja ekstra-keras.

Rezaeian, di antara empat bek yang menjadi starter pada laga melawan Maroko, menjadi yang paling sering melakukan pelanggaran. Tercatat ada dua pelanggaran yang dia lakukan sepanjang pertandingan itu. Jika mengingat sisi kiri Spanyol punya pemain-pemain lincah, ada kemungkinan ia menjadi target empuk.

(mr)