MENGUNJUNGI MOROWALI, USAHA KOS-KOSAN DAN BAHAN POKOK DONGKRAK PEREKONOMIAN WARGA

Foto: Kondisi Desa Fatufia Kecamatan Bohodopi dengan adanya perusahaan nikel PT IMIP

Morowali, Utustoria.com

Dengan kabar yang menghebohkan disejumlah media cetak, elektronik maupun online saat ini terkait TKA asal China di perusahaan raksasa yakni PT  Indonesia Morowali Industrial Park (PT IMIP) yang berada di desa Fatufia Kecamatan Bahodopi Kabupaten Morowali menarik saya untuk segera berkunjung kesana.

Dengan modal penasaran dan teriknya matahari, menghantar gas kendaraan roda dua yang saya tumpangi menuju pelabuhan penyeberangan Kapal Feri yang berada di Desa Siliti Kecamatan Bungku Utara Kabupaten Morowali Utara (Morut) pada Sabtu (26/5) sekira pukul 11.00 Wita untuk menuju Kota Kolonodale yang merupakan Ibu Kota Morowali Utara.

Kapal yang jadwal rutinnya berangakat pada pukul 15.00 Wita itu berhasil mengantar saya dengan selamat hingga di Pelabuhan Kolonodale dengan durasi waktu sekira 4 jam lamanya tepatnya pukul 19.00 Wita. Perjalanan tidak berhenti sampai disitu saja, perjalanan itu masih membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam untuk dapat menginjakan kaki di kota Bungku yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Morowali.

Sampainya dikota dengan indahnya lampu jalan dijalur 2, saya pun memutuskan untuk beristirahat sejenak karena untuk menuju Kecamatan Bahodopi saya masih memerlukan waktu sekira 1,5 jam lagi.

Setelah saya melanjutkan perjanalan yang cukup melelahkan itu, akhirnya desa Kolono di Kecamatan Bungku Timur menjadi akhir perjalanan saya pada pukul 02.00 Wita untuk dapat menikmati empuknya kasur demi mengendorkan urat serta otot yang pegal.

Keesokan paginya, rasa tidak sabar untuk menyaksikan langsung hebohnya TKA asal China saya pun bergegas menuju Kecamatan Bahodopi yakni Desa Fatufia yang jaraknya kurang lebih 20 Kilometer atau membutuhkan waktu sekira 30 menit dengan menggunakan sepeda motor.

Namun, sampainya disana rasa kecewa pun sedikit menggelitik hati karena tidak satu pun TKA tersebut terlihat diluar area perusahaan raksasa itu, yang kabarnya TKA tersebut memang tidak diperkenankan untuk keluar dari area perusahaan itu.

Walaupun begitu, belum lama setibanya saya di Desa Fatufia, membuat saya terkagum-kagum dengan ramainya desa kecil itu yang dikarenakan padatnya tenaga kerja lokal (WNI) dari berbagai daerah bahkan provinsi diluar Sulteng terpusat untuk tinggal di desa tersebut, sehingga warga desa setempat sangat memanfaatkan situasi untuk dapat meraup pundi-pundi rupiah dengan berbagai cara berbeda-beda.

Dengan padatnya pekerja WNI dari berbagai daerah yang ada di Kecamatan Bahodopi sangat mendongkrak perekonomian dalam bidang usaha sewa kamar kos-kosan serta kios sembako.

Jika diamati, hampir seluruh sudut Kecamatan ini, terlihat banyaknya usaha kos-kosan yang diperkirakan jumlahnya hingga ribuan petak dan terisi penuh.

"Disini banyak warga yang berlomba-lomba membangun kos-kosan, bahkan rumah pribadi diikut disewakan karena banyak yang membutuhkan tempat tinggal,"ujar salah satu warga Bahodopi, Anto.(Mr)