Natal dan Semangat Teologi Sosial yang Begitu Kental | Utustoria Natal dan Semangat Teologi Sosial yang Begitu Kental – Utustoria

Natal dan Semangat Teologi Sosial yang Begitu Kental

162
Spread the love

Photo: Ilustrasi Pohon Natal, Istimewa

Penulis: Wisnu Wiradana Sudirham

In the Bleak Midwinter merupakan sebuah himne Natal yang diciptakan oleh komponis Inggris Gustav Holst pada 1906, yang syairnya diambil dari puisi karangan tokoh sastra Inggris perempuan abad ke-19, Christina Rossetti. Lagu ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Yayasan Musik Gereja (Yamuger) dan merupakan lagu nomer 121 dalam buku himnal Kidung Jemaat.

Lagu ini menunjukkan fenomena yang kontras dengan suasana Natal yang umum hadir di masyarakat yang sarat dengan nafas festive gegap gempita berbalut konsumerisme. In the Bleak Midwinter berbicara tentang Natal yang suram (bleak) di tengah dinginnya puncak musim dingin. Puisi Rossetti menangkap bagaimana kelahiran Kristus sang juruselamat di tengah kekacauan dan penderitaan. Seperti yang digambarkan pada stanza pertama, dinginnya angin membuat orang mengerang dan air pun menjadi batu.

Syair dari himne ini terdiri atas lima stanza, sama seperti puisinya. Tidak ditambah, tidak dikurangi. Tidak seperti lagu-lagu musik industri, dalam tradisi himne umumnya musik diciptakan oleh komponis dan syair diciptakan oleh sastrawan atau teolog. Stanza pertama sebagai pembuka, memberikan gambaran suasana musim dingin yang suram dan tidak ada kehangatan. Pada keadaan seperti itulah, Kristus dilahirkan ke dunia.

Stanza kedua menggambarkan tentang kebesaran Tuhan, dimana Rossetti mengatakan bahwa kebesaran-Nya begitu besar sampai kerajaan surga maupun dunia pun tak mampu menampung kebesaran-Nya. Di sini, Rossetti mengutip doa Salomo pada kitab 1 Raja-raja 8:27. Namun di samping kebesaran-Nya, susu dari ibu-Nya, dan jerami tempat Dia dibaringkan sudah cukup untuknya. Hal ini mengungkapkan kesederhanaan yang merupakan bagian dari kebesaran-Nya dan dapat dilihat pada stanza ketiga.

Lalu, pada stanza keempat diceritakan bagaimana para malaikat datang untuk menyembah-Nya, namun sebuah ciuman dari sang ibu, yang menggambarkan sisi kemanusiaan, adalah caranya sendiri untuk menyembah-Nya.

Puisi ini ditutup oleh stanza terakhir yang menggambarkan keadaan miskin di tengah dinginnya musim itu. Apa yang kita bisa diberikan kepada-Nya pada keadaan yang dingin dan rapuh itu? Sementara, kita bukanlah gembala yang dapat memberikan ternaknya, ataupun orang majus yang dapat memberikan emas maupun wewangian. Di sini, Rossetti memberikan kesimpulan bahwa kita hanya perlu memberikan hati kita.

Baik Rossetti maupun Holst, keduanya bukanlah orang yang lahir dari kalangan yang punya privilese. Walaupun Holst di kemudian hari menjadi inspirasi komponis era selanjutnya seperti Hans Zimmer dan John Williams, yang dikenal sebagai komponis film Box Office bermodalkan jutaan dolar AS, namun hidup sebagai komponis pada zamannya tidak mudah dijalani. Dia bahkan pernah berkata, “Music-making as a means of getting money is hell.”

Holst sendiri adalah seniman yang juga seorang aktivis buruh di Inggris, mengajar dan menjadi dirigen pada Hammersmith Socialist Choir, serta ikut mengantarkan koran Socialist Worker dengan sepedanya. Sebagai seorang guru musik, Holst mengajar di Morley College untuk menghadirkan pelajaran musik bagi kelas pekerja. Holst juga mengajar di St Paul’s Girls’ School sebagai pionir pendidikan musik untuk perempuan karena pada zamannya musik masih didominasi laki-laki.

Sementara itu, Rossetti adalah sastrawan perempuan yang prominen di zamannya. Dia lahir dari keluarga miskin di London dan memiliki gangguan mental, sehingga dia harus meninggalkan sekolahnya pada usia 14 tahun. Selain aktif di bidang sastra, Rossetti juga aktivis anti perbudakan dan aktivis perempuan dimana dia menjadi volunteer di St Mary Magdalene House of Charity di London yang membina mantan pekerja seks.

Rossetti kerap mengangkat isu-isu perempuan dalam karya sastranya. Ini merupakan sesuatu yang besar mengingat dunia intelektual Eropa abad 19 didominasi oleh laki-laki. Gereja Anglikan menetapkan feast day untuknya setiap 27 April.

Lagu tadi memuat semangat teologi sosial yang begitu kental karena penciptanya dekat dengan isu-isu sosial. Karya seni merupakan buah pengalaman dan pemikiran penciptanya sendiri. Seperti kata Plato bahwa seni adalah mimesis, yaitu sebuah tiruan dari kenyataan. Sementara, lagu rohani pada hari ini banyak digunakan sebagai candu kesalehan pribadi hingga menutup diri dari keadaan sekitar. In the Bleak Midwinter menghadirkan cara pandang yang berbeda. Kita diajak untuk melihat suramnya dunia sekitar kita.

Kekristenan berawal dari doktrin sosial dimana wajah Kristus dapat dilihat dari orang-orang yang termarginalkan. Yesus berbaur dengan para pelacur, pemberontak, dan orang-orang kusta. Pada zamannya, penyakit kusta dianggap sebagai kutukan Tuhan.

Pengutusan yang diberikan oleh-Nya bukanlah dengan cara tidak absen dalam beribadah dan patuh terhadap hukum-hukum agama, melainkan sebuah usaha menghadirkan Kerajaan Allah ke tengah dunia. Bukan bagaimana roh manusia melayang ke langit dan berdiam di surga, tapi sebaliknya, kerajaan-Nya yang datang ke bumi, dimana akan terjadi rekonsiliasi antara Tuhan dan para pendosa. Inkarnasi Kristus menjadi manusia merupakan lambang bahwa esensi kemanusiaan adalah Ketuhanan karena tubuh kita adalah Bait Allah, tempat Tuhan bersemayam di dunia.

Selamat Natal bagi orang-orang yang merayakan serta turut merenungkannya. Selamat Natal juga bagi mereka yang hanya sekadar ingin berbasa-basi supaya terlihat religius di depan keluarga, kerabat, dan calon mertua. Dan, selamat berbelanja bagi orang-orang yang melihat Natal sebagai momentum untuk menghabiskan uang.

Artikel ini sebelumnya telah terbit juga di Voxpop.id




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *