UPDATE COVID-19 INDONESIA


POSITIF

59,394

ORANG

SEMBUH

26,667

ORANG

MENINGGAL

2,987

ORANG

Sumber data : http://covid19.go.id Update terakhir :

Bahaya Sesat Pikir dalam Memahami Kritik

130
Spread the love

Photo: Ilustrasi, Utustoria

Oleh: Reza Fauzi


Beberapa hari lalu saya menulis tentang Bahaya Anti Kritik. Tulisan tersebut adalah catatan pendek refleksi sederhana saya tentang anti kritik dan bahayanya dalam kehidupan demokrasi kita sehari-hari khususnya di Kabupaten Banggai. Saya tidak pernah menduga banyak reaksi terhadap tulisan singkat tersebut.

Ada yang senang dan bersepakat dengan saya dan tentu saja ada yang tidak nyaman dan dengan satu dan lain cara mengatakan catatan saya tersebut sangat tendensius dan bahkan tulisan tersebut katanya sangat sentimentil dan irasional.

Namun, lepas dari pro dan kontra tersebut tentu saja saya merasa bahagia, senang dan beruntung. Karena itu semua menunjukkan bahwa tulisan sederhana saya dibaca orang. Dan untuk membalas kebaikan tersebut saya akan menuliskan catatan singkat saya terkait kritik atas tulisan saya itu.

Ada beberapa orang yang kurang awas dalam membaca tulisan pendek saya tersebut tentu saja bukan karena tidak mengerti defenisi sederhana tentang kritik, karena dalam tulisan tersebut saya menuliskan beberapa pengertian tentang kritik. Saya mengira kekurang awasan tersebut disebabkan oleh adanya prasangka dalam membaca tulisan itu.

Membaca dengan prasangka ini tentu saja menurut saya sangat bermasalah secara logis sebab prasangka akan selalu beriringan dengan lemahnya penalaran. Untuk itu bagi yang sering membaca sesuatu dengan prasangka dan membuat dirinya selalu “kepanasan” terhadap sesuatu tulisan yang tidak disukainya secara emosi saya sarankan untuk membaca buku tentang logika agar tidak tersesat lebih jauh.

Dalam beberapa komentar terkait tulisan singkat saya tersebut ada beberapa orang menggunakan strategi ganda untuk menyoal tulisan saya, pertama dia mau menjelaskan kritik harus objektif dan patuh pada kaidah-kaidah logis namun kemudian dia menuduh saya menggiring opini dan seperti saya katakan sebelumnya dia menuduh saya sentimen kepada seseorang tanpa memberikan satupun fakta kepada siapa sentimen saya itu diarahkan dan menuduh saya menggunakan perasaan secara berlebihan tanpa menjelaskan perasaan macam apa yang dimaksudkannya. Sampai di sini kita dapat menyimpulkan siapa sebetulnya yang irasional.

Perlu saya tuliskan di sini bahwa menyerang seseorang lalu menuduh seseorang tersebut dengan label sentimen dan bahkan irasional tanpa masuk pada basis argumentasi yang menjadi pondasi dalam tulisan adalah merupakan kesesatan berpikir yang nyata di mana selama ini dikenal dengan istilah Argumentum ad Hominem yaitu ketidak-sukaan atau ketidak-setujuannya bukan karena hasil penalaran atas argumentasi, tetapi karena lawan bicara berbeda secara keyakinan baik itu agama, politik maupun identitas.

Saya perlu luruskan, bagi yang awas dan membaca tanpa prasangka maka dia akan pahami bahwa tulisan tersebut tidak menyebutkan nama seseorang atau menyerang seseorang atau nama kelompok atau keluarga orang sebagai sosok dan identitas tertentu dan semua yang membaca saya kira paham, kecuali bagi orang yang kemampuan memahami sesuatunya dapat dikatakan bermasalah atau terdapat kesesatan dalam cara berpikirnya.
Apa yang saya persoalkan dalam catatan tersebut sejatinya adalah suatu tipe umum cara berpikir dan cara bersikap yang diam-diam merasuki seseorang, keluarga atau kelompok orang; yaitu cara berpikir dan bersikap senang atau suka pamer kuasa serta arogansi dan tentu saja Anti Terhadap Kritik sembari mencitrai diri menggunakan tabir moral, janji –janji serta sogokan demi mendapatkan kesan-kesan indrawi sebagai orang baik.

Kita tahu kecenderungan seperti ini tentu saja sangat berbahaya dalam kehidupan demokrasi kita. Sebagai penutup catatan singkat ini saya ingin menegaskan bahwa meskipun suatu argumentasi dibangun dengan dekorasi demokratis yang dipadukan dengan nomokrasi sebagai konsekwensi logis dalam amandemen ketiga UUD 1945 namun semua menjadi sia-sia dan mubazir, hal ini tentu saja disebabkan tidak lain adalah kerena prasangka.

Membaca dengan prasangka dan kemudian menuduh seseorang tanpa disertai fakta jelas akan mengaburkan pendasaran logis atas kritik yang akhirnya seseorang alih-alih menjadi kritis justru malah menjadi tukang gosip alias SUSUPO.

Toili 21 Juni 2020




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *