UPDATE COVID-19 INDONESIA


POSITIF

59,394

ORANG

SEMBUH

26,667

ORANG

MENINGGAL

2,987

ORANG

Sumber data : http://covid19.go.id Update terakhir :

Tak Punya Uang, Nyawa Bayi Melayang Di RSUD Luwuk

589
Spread the love

Photo: Jabang Bayi Meninggal di RSUD Luwuk

Utustoria.com, Banggai. Pasangan Suami – Istri, Basrin dan Yustina harus menanggung beban kesedihan akibat kehilangan buah hati yang selama sembilan bulan dinanti kehadirannya.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, Basrin dan Yustina tiba di RSUD Luwuk pada hari Selasa (16/6) setelah dirujuk dari Salakan, Banggai Kepulauan. Sebelumnya dikabarkan bahwa hasil diagnosa pasien Yustina, ibu yang mengandung tersebut harus menjalani operasi sesar karena posisi plasenta menutupi jalan lahir.

Saat akan dioperasi ternyata kartu Badan Penyelanggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) milik pasien dinyatakan sudah tidak berlaku lagi, padahal sebelumnya pada saat melakukan USG di Rumah Sakit Salakan kartu tersebut masih Aktif. Menurut Mey Pangku, Salah satu keluarga Pasien yang ikut mendampingi, bahwa mereka telah melakukan konfirmasi dan pihak BPJS membenarkan bahwa kartu BPJS mereka sudah tidak aktif.

“Kami sudah tanya ke pihak BPJS, dan diakui oleh pihak BPJS bahwa memang kartu yang kami gunakan sudah tidak aktif” Ungkap Mey pada Utustoria saat diwawancara.

Kenyataan pahit yang harus mereka terima adalah menjalani penanganan kesehatan tanpa menggunakan BPJS, yakni menjadi kategori pasien Umum. Biaya yang dibebankan oleh pihak rumah sakit kepada pasien sebesar Rp. 15 juta. Namun, dengan meminta untuk dibijaksanai akhirnya pihak rumah sakit memberikan keringanan dengan memberikan beban sebesar Rp. 6,5 juta. Sayangnya, pihak keluarga pun tidak dapat menyanggupi angka tersebut.

“Kami terpaksa menjadi pasien umum, dan waktu itu kami diberitahu bahwa biaya operasi sebesar 16 juta, dan jelas kami tidak mampu, kami meminta kebijaksanaan, pihak rumah sakit akhirnya memberi keringanan sebesar 6,5 juta saja yang harus dibayar, dan itupun kami belum bisa menyanggupi.” Ungkap Mey.

Menurut pengakuan lain dari Mey, bahwa Pihak rumah sakit melalui salah satu perawatnya sempat mempertanyakan berapa kemampuan finansial pasien dengan nada yang terkesan seperti transaksi jual-beli di Pasar. “Berapa bapak punya kemampuan? Apa? Hanya dua juta?” Mey memperagakan gaya bertanya perawat tersebut.

Sejak hari Selasa (17/6) hingga kamis (18/6) pasien sudah diminta untuk berpuasa untuk menjalani operasi, sayangnya setelah berpuasa selama 3 hari pasien Yustina tak kunjung dioperasi dengan alasan ruang operasi yang penuh.

“Kami yakin, bukan karena ruangan penuh, tapi karena kami belum punya biaya sehingga belum di operasi” Ungkap Mey, dengan nada curiga saat ditanya awak media.

Tepat pada kamis malam pasien Yustina mengalami pecah ketuban, saat itu akhirnya dilarikan dari ruang perawatan umum menuju ke ruang operasi. Namun, penanganan baru diterima pada Jumat pagi (19/6).

dr. Grey, Spesialis kandungan yang melakukan USG akhirnya memastikan bahwa bayi yang ada dalam kandungan telah meninggal. Setelah itu barulah ooperasi sesar untuk mengeluarkan jabang bayi dilakukan.
“Bayi sudah kekurangan oksigen karena 3 hari ibu bayi diminta berpuasa tapi tidak dilakukan operasi, kalau begini orang miskin memang jangan masuk rumah sakit, karena akan percuma” tegas Mey, yang mendampingi keluarganya.

Sementera itu saat dikonfirmasi oleh Utustoria, dr Yusran membeberkan fakta yang berbeda. Menurutnya bahwa pihak keluargalah yang justru menolak untuk dioperasi pada hari kamis (18/6). Dirinya menambahkan bahwa kendala terkait tertundanya operasi hanya terletak pada tidak aktifnya kartu BPJS, bukan pada persoalan biaya operasi, sebab pihak Rumah Sakit tetap akan melayani pasien sekalipun belum memenuhi biaya yang dibebankan.

“Suami dari pasien yang sebenarnya menolak, mungkin karena dia berpikir bahwa biaya harus segera dilunasi, padahal sekalipun belum dibayar kami tetap akan melayani” ungkap dr. Yusran.

“Sebelumnya Suami Pasien juga sudah bertanda tangan untuk penolakan operasi” Tambah dr Yusran, selaku kepala Rumah Sakit.
Sampai berita ini diterbitkan, pihak Utustoria belum menerima bukti tanda tangan penolakan operasi yang dimaksudkan oleh dr. Yusran. (Jie)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *