UPDATE COVID-19 INDONESIA


POSITIF

59,394

ORANG

SEMBUH

26,667

ORANG

MENINGGAL

2,987

ORANG

Sumber data : http://covid19.go.id Update terakhir :

Jerit Kesakitan Dewa Ayu Trisnasari, Pengidap Kanker Payudara Stadium Lanjut

899
Spread the love

Photo: Dewa Ayu Trisnasari Pengidap Kanker Payudara Stadium Lanjut

Utustoria.com, Banggai. Cobaan kehidupan yang datang tak penah memandang kelas sosial antara kita. Siapapun dalam keadaan baik akan berubah ketika Dewi Fortuna tak memihaknya. Begitu pula yang sedang dialami oleh keluarga Dewa Ayu Trisnasari. Semenjak maret 2020, Ayu menahan sakit kanker payudara yang menggrogoti tubuhnya. Selain keadaan ekonomi yang memprihatinkan, Ayu harus berbesar hati menghadapi penyakit ini.

Dewa Ayu Trisnasari adalah warga Desa Mekar Kencana Kecamatan Toili yang hidup dengan ekonomi pas-pasan. Mengandalkan Kartu Indonesia Sehat, nyoman mencoba berobat mencari jalan keluar tentang penyakit kanker ini. Sudah tercatat sejak munculnya penyakit ini, nyoman harus keluar masuk Puskesmas untuk mendapatkan perawatan intensif. Disayangkan dari hasil perawatan medis itu tak menemui titik terang. Pihak keluarga sempat memilih pengobatan tradisional namun hasil yang diharpakan berbanding terbalik. bukannya membaik, Kini keadaan kanker sudah memasuki stadium lanjut.

Hal ini baru diketahui setelah 2 hari Ayu dirawat di UPT Puskesmas 2 Toili. Pihak puskes menerangkan harus segera di rujuk untuk mendapatkan tindakan medis selanjutnya karna kangker di dadanya kian membesar.

“Pasien kanker payudara ini sudah memasuki stadium lanjut, harus segera di rujuk ke RSUD Luwuk” jelas dr. Herti.

Setelah mengetahui hal tersebut, keluarga meminta pasien dibawa pulang dan akan dirawat di rumah saja. Pihak keluarga pasrah untuk diobati seadanya karna memikirkan faktor ekonomi.

Pihak keluarga menjelaskan mengapa enggan untuk di rujuk ke RSUD luwuk karena walaupun biaya perawatan gratis, namun biaya yang menjaga dan keseharian yang menjaga tetap membutuhkan dana.

Saat ditemui di rumah pasien, Dewa Made Karang, ayah kandung pasien ini memberi keterangan yang mengejutkan.

“Saya mau anak saya dipindahkan ke Rumah Sakit Luwuk, tapi kan butuh biaya”

“memang biaya perwatan gratis, obat gratis tapi yang jaga gimana? kan tetap harus pegang uang untuk ini-itu di sana” ungkap Made karang.

“Saya baru selesai bersihkan lukanya, sudah bau dan ada ulatnya, tadi saya pakai Cap Tikus untuk membersihkan ulatnya, karna gak punya alkohol” tambahnya.

Sebenarnya pihak Desa Marga Kencana sudah inisiatif memberi bantuan sebesar 1 juta rupiah untuk tambahan namun pihak keluarga masih enggan untuk dirujuk ke RS Luwuk.

Upaya-upaya komunikasi dan kordinasi sampai ke pihak Pemerintah Kecamatan Toili. Agung, Sekertaris Camat Toili ikut bergerak mengupayakan agar musibah ini bisa terselesaikan.

“Saya sudah yakinkan keluarga, yang terpenting adik ini segera dibawa ke Rumah Sakit, untuk biaya kita harus saling bahu untuk saudari kita ini, saya sudah intruksikan Desa, Kepala Puskesmas dan sedang diupayakan dinas terkait untuk ikut serta” tegas Agung.

Dalam kasus ini, Wilayah Toili yang kaya akan Sumber Daya Alam yang terus terkuras isinya namun masih banyak ketimpangan persoalan kemiskinan. Ironi daerah yang tak pernah melihat lapisan bawah dan ini bukti bagaimana masyarakat miskin tak merasakan efek baik keberadaan perusahaan.

Sampai berita ini diterbitkan, Pasien sudah berada dalam penangan medis di Rumah Sakit Umum Daerah Luwuk. (To)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *