Tumbuh Subur Corona, Perjuangan Masih Panjang!! - Utustoria Tumbuh Subur Corona, Perjuangan Masih Panjang!! - Utustoria

Tumbuh Subur Corona, Perjuangan Masih Panjang!!

444
Spread the love

Penulis: Ejha

Puasa telah usai, tibalah kita di pintu gerbang kemerdekaan. 30 hari lamanya menahan hawa dan nafsu ternyata tidak menjadikan kita manusia yang taat.

Yang tersisa dari setiap peristiwa tentu tidak semata-mata kenangan tetapi juga adalah pelajaran, dan setiap orang akan belajar dari berbagai peristiwa yang ia temukan. Jika dimaknai lebih dalam, kita mungkin akan bersepakat bahwa berpuasa merupakan salah satu medium peningkatan kualitas hidup.

Puasa dan lebaran tahun ini menjadi berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pandemi covid-19 sudah lebih dulu mengajak umat muslim dunia untuk warming-up menghadapi bulan ramadhan, banyak nafsu dan hasrat yang sejak dini telah dilatih untuk dibendung. Misalnya, agar dapat memutus mata rantai penyebaran virus maka mobilitas dan aktivitas manusia dibatasi. Tidak boleh berkerumun di tempat-tempat keramaian seperti di Pasar, Terminal, Bandara, Kafe, bahkan Rumah Ibadah. Ironinya hal tersebut tidak menjadikan puasa lebih khusuk, hening dan syahdu, sebab warung soto, gado-gado, kafe dan pasar masih jadi tempat favorit untuk berkumpul di siang hari, lalu malamnya trawih dibubarkan dengan adanya himbauan untuk tidak berkumpul.

Sepertinya memang benar, bahwa kita tidak sedang berperang melawan wabah. Tetapi sejak dulu hingga kini yang kita lawan adalah hawa nafsu yang belum sama sekali bisa dikalahkan. Kalau saja kita bisa menang melawan hawa nafsu, maka dengan mudah mata rantai penyebaran virus ini berhenti.

Dihari kemenangan yang telah tiba ini, ternyata kita sedang kalah. Kesadaran yang minim, pembangkangan terhadap berbagai aturan protokol kesehatan dan anjuran untuk tidak berkumpul sepertinya tidak sama sekali berlaku untuk momen lebaran. Indonesia masih tetap sama sejak dulu hingga kini, bahwa bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Pertemuan adalah sebaik-baiknya silaturahim, sekalipun nyawa menjadi taruhannya. Umur Panjang Korona. Kita memang senang berjuang, dan perjuangan sepertinya akan lebih panjang untuk kami nikmati.

Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.” (Q.S. an-Nahl 4) Penggambaran sifat manusia yang suka membantah ini, semestinya membantu kita untuk dapat introspeksi diri. Ramadhan dan Lebaran sepatutnya menjadikan kita taat.

Kita tidak berharap agar korban terus bertambah, tetapi kita tidak pula serius berupaya menghentikan angka kematian. Sekedar untuk Hening cipta mari sama-sama kita bayangkan perihnya; Betapa terpukul anda sebagai sang suami jika tak boleh memeluk mayat istri, memandikan, mencium keningnya dan membopong jenazah masuk ke liang lahat. Atau apa saja anda dengan orang terdekat anda jika waktu berpisah itu telah tiba akibat korona.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *