Belajar dewasa dari Malin Kundang dan Firaun - Utustoria Belajar dewasa dari Malin Kundang dan Firaun - Utustoria

Belajar dewasa dari Malin Kundang dan Firaun

559
Spread the love

Penulis : Cipto

Dulu, merantau selalu lekat dengan bayangan Malin Kundang. Sama pentingnya dengan kita mengingat pribahasa Hari ini sedang papas, kacang lupa akan kulitnya. Legenda dari tanah Sumatra itu megajarkan bahwa meninggalkan kampung halaman adalah proses menuju tingkat dewasa dengan cepat. Tak hanya itu, kemandirian pun diasah dan ditempa—supaya nanti jadi garam dikehidupan. Sosok ibu menjadi ihwal perjalanan malin meniatkan diri merubah perekonomian yang sering macet di keluarganya. Namun sialnya Malin tak seperti yang di doakan Ibunya. Ia menjadi sosok yang sombong dan angkuh. Singkat cerita ia menjadi batu sebab doa dari ibu. Ia tak menghargai lagi lupa diri.

Saat memutuskan untuk merantau, ibu mengingatkan saya bahwa kesombongan adalah racun bagi saya dan orang lain. Junjung tinggi kesopanan, sebab tak ada harta yang lebih menyilaukan selain kamu lebih sopan kepada orang lain. Sejenak saya terdiam sebelum mengiyakan pesan itu. Tiba-tiba bayangan malin kundang menghantu. Apakah dengan pesan itu saya akan menjadi The Next Malin Kundang atau Malin Kundang sesion 2?. Saya tak dapat membayangkan keagungan legenda dari Sumatra itu akan tergeser kedudukannya dan beralih ke versi Sulawesi. Nauzubillah.

Semoga legenda itu tak pernah bergeser dari tempatnya. Cepat-cepat saya move on dari sosok Malin Kundang dalam kepala saya—secepat saya melupakan bayang-bayang mantan.

Dua perkara yang telah disematkan itu menjadi pegangan saya meninggalkan rumah untuk kuliah di Gorontalo. Kesombongan hanya menjauhkan dari orang-orang yang kita kasihi. Kesopanan yang dapat ditafsirkan dalam berprilaku dan berbicara, sebagai bentuk penghargaan bahwa kita tidak dapat bertahan hidup sendiri.

Harus saya akui, mengamalkan nilai sopan dalam berbicara/bertutur dan berprilaku di tanah rantau seperti membuka resleting saat kencing. Hukumnya fardu ain. Salah sedikit bertutur atau bertindak itu mengundang musuh—atau terjepit resleting. koyo gak munyer dunyo iki dol.

Beberapa hal sederhana tentang Gorontalo adalah penggunaan tuturan “kita”. Kata ganti itu sering asing ditelinga. Bagaimana tidak, arti dari “kita” adalah aku. Berbeda dengan Palu atau Makassar, “kita” itu kamu. Lebih romantis ketimbang “kita ” itu aku. Jo baper kon. Padahal arti kata kita dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah, pronominal personal pertama jamak, yang berbicara bersama dengan orang lain, termasuk yang diajak bicara.

Jamak menunjukkan bahwa kata kita berarti untuk orang yang lebih dari satu. Sampai sekarang saya kadang masih menggunakan kita dalam bertutur. Saya rasai kata itu lebih sopan saat bercerita dengan sebaya dan lebih karib. Beratus mahasiswa baru pun belajar sopan dengan hal sederhana ini. Mungkin pula menghargai budaya. Paling tidak, dari hal itu kita belajar kesopanan. Kita, ngana dan uti akan menjamur dilidah-lidah. Semoga hanya dengan sebaya kata pengganti itu terucap.

Namun akhir-akhir ini saya merasa resah dengan kesopanan tersebut. Kesopanan yang berubah kesan menjadi bentuk rasa takut ataupun segan yang berlebihan kepada orang lain. Bukan pada hal kata pengganti itu. Sopan dan rendah hati itu baik, tapi merendahkan diri sendiri itu bukanlah bentuk kesopanan terhadap diri sendiri.

Keresahan itu terjadi saat saya melihat seorang mahasiswa baru yang berbicara dengan salah satu senior di kampus. Mahasiswa baru itu tunduk, melipat satu tangannya, dan menggunakan kalimat yang terlalu berlebihan. Sialnya, senior tersebut terkesan senang jika juniornya tunduk dan patuh terhadap dia.

Meskipun terlihat sopan, tapi apakah kita rela membiarkan generasi baru bertingkah seperti budak dihadapan majikan? Dan dengan enteng kita bahkan menikmati hal-hal seperti itu. Sampai kapan kita akan mengakukan diri hanya karena kita telah menjadi hamba.

Hal yang salah kemudian adalah tidak adanya kekariban yang diciptakan. Sehingganya batas sopan hanya dapat terlihat dari cara bertutur. Manusia yang menghamba ke manusia tak ubahnya merubah watak firaun dalam dirinya. Dan malin menjadi sosok junior yang tak sadar diri. Kesopanan diciptakan agar manusia saling menghargai—Sadar posisi, sadar ruang dan sadar waktu.

Firaun dan malin banyak membenih dalam diri kita. Tuhan telah mengajarkan bagaimana dua tokoh ini sering hadir dalam cerita berbobot nilai budi. Dalam banyak hal, kita memang senang menilai seseorang dari sikap tubuh dan bahasa tutur yang ia gunakan. Tapi bukankah nilai kesopanan tidak dapat ditakar hanya melalui tingkah tubuh dan bahasa tutur?

Tapi budaya, pendidikan, dan agama memang telah menyimpan sebuah takaran kesopanan. Takaran yang mendogma dan tidak bisa diganggu apa lagi digugat. Bahasa kemudian berpeluang menjadi sistem sosial yang memberikan kekuasan besar terhadap orang yang dianggap punya pengaruh.

Tapi nyatanya dengan kuatnya akar budaya, pendidikan, dan agama tidak menjamin bahwa hidup ini damai. Justru hal sederhanalah yang dapat menyatukan kita; saling menghargai.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *